Asri Mulyani Rotating Header Image

Rumah Tangga

Resep Bahagia menjadi Istri

Momen ini telah lama Anda idam-idamkan, momen di mana Anda pada akhirnya dipersunting sang pangeran hati, siapa lagi kalau bukan mantan pacar Anda. Bukan mantan pacar yang itu, tapi pacar yang akhirnya mengakhiri status sebagai pacar dan berubah menjadi suami Anda. Ya benar, pria yang mengucapkan janji setia dan akan hidup dalam suka dan duka bersama Anda. Selamat ya!

Menjelang hari H, biasanya pasti ada kegugupan dan rasa ragu yang terselip di dalam hati (jujur, mungkin sampai hari ini pun perasaan itu masih ada). Tak lain dan tak bukan adalah perasaan takut bahwa kelak Anda tidak bahagia. Hei, jangan dong darling, you deserves to be happy, kok! Untuk itu, berikut ini akan menjadikan Anda istri yang paling bahagia.

Resep 1

Usahakan ada kamar mandi terpisah di rumah Anda, khusus untuk suami dan khusus untuk Anda. Mengapa demikian? pada umumnya pria dan wanita sama-sama menikmati momen kamar mandi, Anda sebagai wanita suka berlama-lama saat berendam di dalam air racikan spa, sementara si dia suka berlama-lama saat bertengkar dengan Anda, atau saat ingin menyendiri membaca koran Bola-nya. So, jangan sampai Anda jadi bertengkar karena sama-sama ingin menikmati momen kamar mandi. Jika toh memang kamar mandinya hanya ada satu, buat sebuah ruang di halaman belakang yang cukup untuk Anda menikmati momen spa Anda.

Resep 2

Jika Anda bertengkar dengan suami, jangan curhatkan ini pada teman arisan Anda. Beda dong seperti saat Anda dan si dia masih berpacaran dulu, Anda masih bebas bercerita dan meminta pendapat pada sahabat saat Anda merasa kurang yakin dengan si dia. Tetapi, sekarang yang ada di hadapan Anda adalah suami lho. Seseorang yang setiap hari tinggal bareng dengan Anda sebagai pasangan Anda. So, apapun pertengkaran yang Anda hadapi, usahakan untuk menyimpan dan mendiskusikannya berdua.

Resep 3

Jangan terlalu serius juga dalam menghadapi suatu hubungan. Maksudnya, tegang malah akan membuat Anda semakin stres dan tertekan. Anggap saja saat ini Anda dan si dia sedang berpacaran, hanya saja kebetulan di dalam satu atap yang sama. So, jangan tinggalkan momen dan kebiasaan Anda bercanda dengan si dia dahulu. Ajak si dia bermain, bercanda, berdiskusi dan menikmati momen bahagia.

Resep 4

Cinta yang tak berpondasi persahabatan, akan mudah runtuh seperti rumah yang didirikan di atas pasir. Untuk itu anggaplah dia sebagai suami, kepala rumah tangga, sekaligus sahabat Anda.

Resep 5

Ada comfort zone di dalam hubungan Anda adalah hal yang sangat wajar. Apabila memang Anda suka menonton tayangan gosip, sementara dia asyik mengutak atik mesin mobil, jangan paksa dia untuk ikut menonton tayangan gosip bersama Anda. Toh dia juga lagi asyik-asyiknya bercengkerama dengan oli dan mesin-mesin mobilnya. Biarkan saja dia menikmatinya.

Resep 6

Jangan pernah berselingkuh, karena ketika Anda berbuat curang pada suami, Anda berbuat curang pula pada keluarga! Memang begitulah kenyataannya, saat Anda mencoba berbohong pada suami, dan menyembunyikan seseorang di balik cinta dan komitmen Anda, maka Anda tak hanya berbohong pada seorang saja. Anda telah menyakiti suami, sekaligus keluarga Anda. (more…)

Sifat Menjengkelkan Suami

Bagi Anda para calon istri yang akan segera melepas masa lajangnya  sebelum Anda menikah, ketahui terlebih dahulu sikap menjengkelkan para suami agar kelak Anda tahu bagaimana cara mengatasinya saat berumah tangga nanti. Jika saat berpacaran Anda lebih banyak tersenyum dan tersipu, bersiaplah menghadapi sikap suami yang menjengkelkan dan kerap membuat Anda marah. Sebaiknya Anda lekas sadar bahwa Pernikahan bukan bagaikan dongeng happily ever after, banyak kerikil tajam yang akan membuat kaki Anda tertusuk dan menghambat jalan Anda.

Selama ini Anda mengira keadaan akan baik-baik saja dan bahkan lebih baik saat Anda dan si dia menikah. Ternyata setelah Anda menjalaninya, banyak hal yang membuat Anda shock dan jengkel.

Malas bangun tidur

Dulu sih waktu masih acara PDKT ia berusaha bangun pagi hari dan mengantarkan Anda beraktivitas. Wajahnya terlihat berseri-seri dan semangatnya terpancar melalui wajahnya. Tetapi setelah menikah, ia lebih sibuk dengan selimut dan bantalnya.

“Aduh sayang nanggung nih, aku ngantuk banget. Please kamu ngerti aku ya…” begitulah katanya saat Anda membangunkan si dia di pagi hari untuk mengantar Anda berbelanja. Kok beda dengan yang dulu ya?

Hadapilah bahwa kenyataan ini terjadi hampir di semua rumah tangga, dan ini adalah wajar! (more…)

Mulailah dari Keluarga

Anda tidak akan bisa menghargai apa yang bakal Anda miliki bila Anda belum bisa menghargai apa yang sudah Anda punyai saat ini. Apakah Anda setuju dengan pernyataan tersebut? Mungkin Anda akan manggut-manggut tanda setuju.

Namun kenyataannya, banyak dari kita kerap terjebak dan terpesona pada ‘fokus yang salah’. Kita kerap kali lebih menghargai dan menaruh perhatian pada apa yang belum dimiliki, yang kita dambakan, ketimbang pada apa yang sudah ada di tangan kita.

Sebut saja misalnya, seseorang yang sedang jatuh cinta. Ia terkadang bisa sampai lupa diri, sehingga melupakan keluarga dan teman-temannya. Seluruh perhatian dan pengorbanan seolah tertuju hanya untuk si dia seorang. Hanya doi yang terlihat penting di mata, makanya sampai muncul istilah dunia seolah milik berdua.

Semua orang seolah jadi tidak sepenting doi. Bahkan tak jarang keluarga sendiri dilupakan, ditinggalkan, atau dibenci hanya gara-gara doi.Lalu sekarang pertanyaannya, mengapa terkadang kita lebih bisa mengasihi ‘orang luar’ dibanding ‘orang dalam’ alias keluarga sendiri? Mengapa kita jadi terseret untuk lebih menghargai doi daripada keluarga atau teman sendiri? Sebabnya hanya satu, yaitu karena kita belum benar-benar mengenal karakter doi dan ‘orang luar’ itu seperti apa. (more…)